Nabi yang "Ngambek"


Dalam Terjemah Al Qur'an surat al-Anbiya ayat 87 disebutkan "Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya)... "

Singkat cerita, Nabi Yunus 'ngambek' karena dakwahnya kepada masyarakat di wilayah Beliau tidak bisa diterima dengan baik. "Elo semua dibilangin susah banget sih, ya udah terserah elo pada deh..., gw mau pergi ajah!". Mungkin jika menggunakan gaya dialog saat ini bisa jadi seperti itu.

Nabi Yunus pun pergi dengan kapal yang penuh muatan, tidak ada rincian detail dari Terjemah Al Qur'an kemana Beliau akan pergi. Disebutkan dalam Terjemah Qur'an surat Ash Shaaffat ayat 139-148 yang intinya adalah:

1. Ayat 139: Nabi Yunus adalah seorang Rasul
2. Ayat 140: Dia pergi menuju kapal yang penuh muatan
3. Ayat 141: Dialah yang terpilih dalam undian untuk diturunkan paksa ditengah lautan
4. Ayat 142: Kemudian dia ditelan Ikan Besar
5. Ayat 143-144: Nabi Yunus termasuk orang yang banyak mengingat Allah
6. Ayat 145: Nabi Yunus 'dilemparkan' ke daerah yang tandus dan dalam keadaan sakit
7. Ayat 146: Allah menumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu di daerah tandus itu
8. Ayat 147: Allah mengutusnya berdakwah kepada 100 ribu orang atau lebih
9. Ayat 148: Orang-orang itu pun beriman dan Allah anugerahi kenikmatan kehidupan sampai waktu tertentu.

Diceritakan dari beberapa sumber bahwa kapal yang ditumpangi Nabi Yunus dihantam badai dan terancam tenggelam. Kapten kapal pun mengumumkan bahwa ada kelebihan muatan sehingga penumpang harus dikurangi.. Sebagaimana tradisi pada waktu itu, Kapten memutuskan dilakukan undian untuk menentukan siapa yang harus diturunkan paksa di tengah lautan. (Versi dari sumber lain menyebutkan bahwa undian dilakukan bukan karena kelebihan muatan tetapi untuk meredakan badai harus ada yang dikorbankan kepada 'Dewa Lautan')

Hasil undian ternyata menunjukan bahwa Nabi Yunus-lah yang harus 'dikorbankan' untuk mengurangi beban muatan kapal. Mau tidak mau, suka tidak suka, Sang Nabi harus terjun kelautan luas. Mungkin belum hilang rasa takut dan kebingungannya saat berenang di lautan luas itu, seekor ikan yang sangat besar mengejar untuk memangsa Nabi Yunus.

Detail cerita bagaimana Nabi Yunus bertahan setelah terjun kelautan dan ketika disantap ikan besar tidak disebutkan dalam ayat-ayat yang mengisahkan cerita Nabi ini. Saya pikir memang tidak perlu karena ini memang bukan naskah filem hollywood. Intinya adalah Nabi Yunus terjun kelautan kemudian dimakan Ikan.

Bagaimana keadaan Nabi setelah dimakan ikan? Subhanallah, Beliau masih hidup di dalam ikan itu. Lanjutan surat Al- Anbiya ayat 87 di atas adalah "....maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim"

Ayat itu hanya menyebutkan keadaan yang 'sangat gelap' dan tidak melukiskan posisi Nabi apakah sedang duduk, tengkurap, berdiri, selonjoran, dan lain-lain. Dalam keadaan yang sangat gelap itu, Nabi berteriak (menyeru), "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim"

Subhanallah..., mari perhatikan kalimat yang diucapkan Nabi Yunus saat itu, bukan sebuah kalimat permintaan untuk disegerakan keluar dari dalam ikan. Kalo saja saya yang mengalami, pasti teriakan panik minta tolong yang meluncur dari mulut agar segera dikeluarkan. Sungguh, hal yang sangat pantas jika Allah mengabadikan kalimat yang diucapkan Nabi Yunus dalam Al Qur'an.

Cerita selanjutnya adalah Nabi Yunus dikeluarkan dari ikan yang menyantapnya di daerah yang tandus. Bagaimana cara keluar (mengeluarkan) Nabi dari dalam Ikan? Terjemah Al-Qur’an menyebutkan, “Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit” (Ash Shaaffat ayat:145). Nabi Yunus ‘dilemparkan’ (dilontarkan) dari dalam ikan ke daerah yang kering kerontang (tandus) dan dalam kondisi kesakitan.

Rupanya, derita Sang Nabi belum usai ketika berhasil keluar dari ikan yang memangsanya. Beliau dalam keadaan sakit dan berada di daerah yang kering tanpa tanaman. Tidak ada keterangan rentang waktu dari sejak Nabi terjun kelaut kemudian dimakan ikan dan akhirnya dilemparkan ke daratan tandus.

Ayat di atas hanya menyebutkan bahwa Nabi Yunus ‘dalam keadaan sakit’ saat dikeluarkan dari dalam ikan. Apakah ‘sakit’-nya karena kehausan dan lapar? atau karena akibat dilemparkan ikan sehingga tubuhnya luka dan mungkin patah tulang? Atau bisa juga kedua hal itu yang dialami. Yang jelas, Nabi Yunus ‘dalam keadaan sakit’. Keterangan ini sudah cukup sebagai data penting untuk memaknai cerita.

Untuk sampai pada akhir cerita yang happy-ending, ”Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka” (Ash Shaaffat ayat:148), Nabi Yunus harus melakukan dakwah pada 100 ribu orang atau lebih sampai mereka beriman.

Baiklah, sekarang saatnya saya coba menggali makna atas kisah Nabi Yunus ini. Jika cerita ini saya gubah dengan menyusun kembali berdasarkan urutan peristiwa dan menerapkan pada sembarang waktu dengan tokoh siapa pun, maka kira-kira akan seperti berikut ini:

  1. Seseorang merasa sangat kesulitan meraih cita-cita yang dia impikan. Sebuah cita-cita yang sejalan dengan perintah Tuhannya, Allah s.w.t.. Dia menyerah, dia prustasi, kemudian mencoba mengubah cita-cita yang Agung itu dengan cita-cita versi arogansi pemikirannya sendiri. 
  2. Orang itu menyangka bahwa cita-citanya akan lebih mudah tercapai tanpa harus sejalan dengan perintah Allah. 
  3. Prasangka itu ternyata salah. Perjalanannya untuk meraih cita-cita versi arogansinya sendiri justru melahirkan masalah serius, masalah yang bahkan mengancam jiwanya. 
  4. Permasalahan itu membuat dirinya seolah berada dalam kegelapan dan terombang-ambing tak tahu arah. Kondisi yang begitu berat ini lama-kelamaan membuatnya tersadar bahwa semua derita yang dia alami ini akibat dari ulahnya sendiri, yang menyerah kalah pada kondisi dimana cita-citanya belum tercapai. 
  5. Kesadaran itu pun membuatnya pasrah total kepada Allah. Dia sadar betul bahwa derita saat ini sudah sewajarnya dia terima sebagai konsekuensi logis atas ulahnya yang lalu. Dia pun dengan sabar menerima konsekuensi itu dan tidak menyalahkan takdir. ("... tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim") 
  6. Dia memulai lagi dari titik nol (tandus, kering, tidak ada apa-apa, tubuh yang sakit dan kelelahan) sambil terus memperbaiki cara berpikirnya. Memompa terus semangatnya. Menyusun strategi baru dan tidak mengulangi cara yang salah di masa lalu.
BAGIKAN