Karta Widjaja: Sajak Mei 2017


Karta Widjaja Mei 2017


CATATAN PENEBANGAN KENANGA
Karta Widjaja, 4 Mei 2017

hanya selangkah
riwayat bunga kenanga itu berakhir.
dulu, wanginya rutin membilas udara kusut melalui perjalanan di lembah-lembah polutif. kini, batangnya tergeletak, sepagian daunnya masih segar, menjelang sore layu, esok akan menguning dan kemudian menjadi coklat, kalau beruntung urat-uratnya akan menjadi kriya yang menempel di buku kerja sekolah.

oh kenanga,
beberapa terisak
sebagian tersedak
selebihnya tak

tak mungkin kami, sungguh
memandikan benih padi melalui aromamu
ia akan tumbuh tanpa perjanjian
hingga menyerah oleh serbuan belalang

tak dapat kami menyemai jagung
dengan kepastian bulirnya padat, manis, bergulung
karena harummu tertelikung

bagi yang pernah meniti cadas
setiap tetumbuh membawa wahyu
bukan hanya tegakan rapuh

karena itu kenanga, sisakan baumu di pojok cakrawala, larung bersama tangkai cahaya. meskipun diam-diam, telah kutancapkan sebagian batang dengan menggali aspal di persimpangan yang kau kenal. sssttt. hanya diam-diam.


TAK ADA
Karta Widjaja, 9 Mei 2017

aku hanya ingin membordir embun dengan gambar yang disaring dari segala perih dan akan kupersembahkan untukmu ketika jeruji tak mampu menahan gigil dengan mengurungmu dalam empat musim. maafkan, kami tak sanggup mencegah dengan kasih yang bening, jalanan dan pikiran penuh belati, sesekali lidah kami terjulur dengan ruam granat dan kebencian yang meletup-letup bersama lahar di jiwa kami.

kamu sendiri
aku sendiri
tapi kita dekat
dengan hati rekat
sisanya sungai nanah
juga badai bacin kuasa

aku berusaha menganyam semburat fajar dengan tangan gemetar. tetapi, tak ada, semua hanya permainan para penjilat tahta, dinginkan hatimu, pada saatnya akan limpas di danau tanpa kata. tak ada.


NARASI YANG DIGELAPKAN
Karta Widjaja, 9 Mei 2017

seseorang, ketika pohon itu ditebang, menangis. ia sendiri bingung, pemicunya kenapa, mungkin karena ia menyaksikan ketika gergaji, tali, dan golok disiapkan, diulur, dan diasah.

sesudah tumbang
lilin menyala

beberapa pohon lain, yang besar maupun kecil, berjatuhan, sebelum ini. tak ada yang menangis, karena sudah wajar yang berdiri akan rebah, penyiapannya tak ada yang melihat, bahkan ketika udara hilang pekat.

lamat-lamat
penjaga arah tertawa
skenarionya sudah sempurna
sedetail kejadiannya

setelah ini
saya hanya menyemai benih
tumbuh atau layu
bukan urusanku
bukan, begitu?




SEMACAM SAJAK CINTA
Karta Widjaja, 29 Mei 2017

aku yakin, engkau tak pernah jauh dari denyut nafasku seperti kelopak yang menyangga bunga mekar dengan harum terus semerbak, jikapun kemudian matahari dan hujan melayukan harapan juga kenangan. karena, di sisimu tak penting lagi apa yang difikirkan dan diimpikan, kekurangan adalah pelengkap bagi kelebihan.

tentu harus ada senyum
juga tangis
sebab jiwa selalu sebrang-menyebrang
antara kemarau dan hujan

jika aku mengucap rindu, barangkali karena ulu hatiku tak cukup membendung tetes kesunyian yang terus-menerus mengaliri telaga hidup di penantian. selebihnya, aku hanya diam, meskipun jutaan pelangi hanyut menjadi mendung tebal tanpa ujung dan pangkal.

Memenuhi tantangan Asep Shalahudin Al-Ayubi di dinding facebook Tan udi


MONOLOG ANGIN
Karta Widjaja, 30 Mei 2017

apakah yang memenjarakan cadar kabut? tak ada, karena kabut sendiri adalah perangkap bagi gigil yang mendekam di kerendahan suhu hingga embun tak sanggup bergeser dari pelepah teh yang terbuka sepanjang waktu: menunggu.

beberapa kampung membangun saung, tempat untuk mengawasi, bila saja ada gerak yang melintas maka kentongan akan dipukul dengan tanda tertentu, sebagian yang lain akan berlari mengetuk pintu-pintu tertutup sambil bergembira: "horeeee. ayo semua kumpul. sudah datang. ayoooo."

bisa saja ada yang sudah hadir sejak nafas ditiupkan, tetapi ditunggu karena diduga berjarak dari tubuhku, juga tubuhmu. kita merangkai berbagai kalam dan kemudian kadang berkeyakinan bahwa mungkin ada di langit, tetapi beberapa serpihan catatan sering mengingatkan bahwa mestinya dimana-mana. aku, yang kini menjadi bagian dari dimana-mana itu, sembab oleh rindu akan hening, jeda dari riuh yang sengkarut memamah hati anak-anak kami. oh Gusti, tenangkan dan dinginkan jiwa kami pada hari ini, juga hari-hari nanti.
BAGIKAN