Karta Widjaja: Sajak Juli 2017


karta widjaja
Terimakasih Nak Saci Gumina Puti, Semoga perjalanan hidupmu penuh warna


SADU SADU SADU

Karta Widjaja, 1 Juli 2017


aku masih di sini, bukit sadu yang mengerucut di ketinggian soreang dengan jejeran batu tak termaktub di huruf yang kukenal.

di atasnya
tentu sepetak langit, tetapi
yang tersembunyi bukanlah pengabul doa, hanya sebuah selokan dengan kupu-kupu terbang melampaui batas mimpi cakrawala.

memandang di kejauhan, berarti memanggil asal mula air ditiupkan sebelum menjadi diri yang mengalir dalam perangkap semesta. kadang kita seperti penyembah matahari, pagi berangkat berjejalan, sore pulang dengan membawa lokomotif kekecewaan.

sudah cukupkah yang aku lukis dan pahat?
sudah lekatkah yang aku cecap?
kadang, cecapung terbang malam, bukan melawan kebiasaan, hanya berharap sesekali bisa menyamar sebagai kelelawar.
menjelang gerimis, hanjuang di pelipir lingga berbisik, “rahasia hidup bukanlah melakukan, tetapi memeluk terhadap apapun yang datang.”

sungguh, bertambah umur ternyata membuat variasi kesedihan makin lengkap, sebelum jiwa kembali ke air yang genap.


BERJALAN KE DALAM

Karta Widjaja, 2 Juli 2017


"di tanah tumpah darah nenek moyangku sendiri, aku ingin pulang dengan reportoar semayup yang menetes dari lengang", bisikmu pada tumpukan batu berundak
di puncaknya lingga
tanpa arca

kadang memang kudengar
engkau menyebrangi lautan
untuk mendaki bukit
di pulau kecil yang dijaga gelombang

di hari lain
engkau mengitari hutan
hingga bertemu tanda tanpa pesan

tak henti
berkali-kali
bunyi itu mirip rintih
menelikung ulu hati

semakin jauh tempat dijejaki
semakin genap diri
berharap selamat ketika kembali

rahayu tanah kami
rahayu air kami
rahayu darah kami
rahayu leluhur dan keturunan kami

 Terimakasih lukisannya ya Kak Saci Gumina Puti
bulan dalam gugus bintang, sebagian bercak awan di pandangan.
Tentram. Tentram. Tentram

ADAKAH YANG LEBIH DALAM

Karta Widjaja, 4 Juli 2017


"sudah kami benihkan lagi kopi itu, yang dipelihara oleh belantara sejak ratusan tahun lalu dengan kusut", begitu saja percakapan dimulai oleh segenggam kabut di pelipis kebun yang dipenuhi koloni semut.

maka kau siangi lagi rumput
maka buah beruntai dengan runut

sejak itu, aku tahu, mulai terbit di kalbumu kehendak, bahwa biji kopi ini bukan hanya hamparan bagi petani yang terbungkuk-bungkuk sepanjang tahun berderet, anak-anak mereka berkeliaran kembang kempis mengejar tangga-tangga semu untuk terdidik dan menjadi bermartabat.

biji kopi itu menangis
ia berdoa agar mimpimu dimudahkan
ia rela bahkan bila berkali-kali dijarang
dan dipanggang
ia mau menerbitkan rasa
yang tidak mudah di lupa
menjerat semua lidah
sebab ia tahu
bening mata
kalbumu
tak riuh.

salam takjim buat Aulia Asmarani dan Irwan Nirwan


AKU INGAT KAMU

Karta Widjaja, 5 Juli 2017


aku ingat kamu
menjahit senyap hingga subuh
lubang dan sobekan
kau sulam dengan komposisi dendang

ingin kutenun bunga
yang kusuling dari tetes air mataku
fajar rekah sempurna
cahaya warna warni menyelubungi lelapmu

tapi aku kini tercekat
menelusuri urat rindu
jauh dan dekat
kasih pasang di rembulan biru

aku ingat kamu
aku terseret gumaman kupu-kupu
luka dan sarang laba-laba
denganmu, tak perlu mengurutkan suara

aku ingat kamu
jauh sebelum serangga lahir
arah ditukar dengan waktu
senyum manis dikirim kurir

bisa saja aku tak mengingatmu
hanya berkebun dengan batas rimba
tapi akan lunglai seluruh darahku
tak sanggup memapah denyut dan gairah

aku ingat kamu
seperti tak pernah bertemu
di kehidupan lalu






LOBANG ANGIN, CANDI ANGIN

Karta Widjaja, 9 Juli 2017


kami tiba, setelah awan gelap di tubir bukit membuat lorong
api ke cahaya
berpendar
bahkan hingga memercik ke rambutmu
seperti kembang api biru
lobang angin, candi angin

di pinggir sungai bening
yoni terbuka
berabad-abad menampung embun
dan hujan kabut
mengalirkannya ke sawah dan ladang
rekat bersama lumpur dari kisah lengang
ganesha merenung
dalam bangunan mengurung
lobang angin, candi angin

kami menanti
malam ke tigapuluh lima dengan bulan penuh
merangkaki serpihan jalan yang diapit jurang
begitu dingin udara
pantulan purnama membasuh kelopak daun
dari ranting mengering
asuh
mburbah
angin
batu-batu pipih
bertumpuk
dolmen tegak setiap puncak lekuk
lobang angin, candi angin

tak ada catatan yang tercetak di peluh
tak ada huruf
kejadian bisa berkali-kali di satu tempat
lemuria
medang kamulyan
kalingga
sanjaya
lobang angin, candi angin
terbuka dan tertutup


HUJAN KABUT DI GUNUNG PADANG

Karta Widjaja, 11 Juli 2017


sore membawa tirai dingin di setiap anak tangga setelah sumur pertama membasuh
raga
sukma
jiwa
merayap dalam upacara
seperti berulang
semayup dalam samar
daun kaku
gemetar langkahku
satu anak tangga
nafas mendepa
satu anak tangga lagi
kabut mengguyur
hanyut tangisku bersepuh aroma gugur

kuketuk batu pertama
siapakah yang menjaga lara?
nadanya seperti penyendiri
menggema tetes sisa senja
tersuling embun sebagai lirih

kuketuk batu kedua
jarak mendekat udara tercekat
duka pecah
kemanakah
kita akan kemana
tubuh berjejal tak sanggup menari
buih, leluhur hanya kita buat buih
tak tersambung dengan kini

kulucuti baju
seluruh yang lekat bersama debu
terlentang di lempengan
yang membatasi garis seberang
aku meminta gugus bintang
gelap langit tak tembus
dengan sisa dengus

pejam
rengat
lebih dalam
urat mendung retak
delapan bintang
bulan berkemas
syahdu
malam meleleh hingga abu-abu


JAMAN MEMANAH ANGIN

Karta Widjaja, 12 Juli 2017


"adakah gerimis yang berwarna?", bisikmu seakan tak percaya kepada panorama sore yang terseduh telaga di ketinggian bukit. tentu saja ada, ketika gegunung memuntahkan debu, gerimis memantulakan setiap warna yang berpijar dari kaget dan gentar.

ada gaduh
khawatir
juga geram
berdenyut-denyut
siapa yang akan menolong kita
dalam delik di peta pancaroba

arus terus bergulir, melonjak-lonjak dalam siklus yang dijanjikan semesta, " jangan, jangan dengan akalmu memilih simpang jalan menuju abu", beburung yang dekat langit berulang-ulang berteriak hingga pita suaranya dipanah jaman yang bergolak. karena gagu, beburung itu mengirim air mata, agar setiap diri tiarap, mengurutkan awal darah di teteskan di air penantian.

sedu, terlupa
di sebuah brankas yang tertimbun benar salah
menanti penyelamat yang dijanjikan
dengan pandangan sejuk dan pelukan hangat
menuntun setiap orang
sampai perbatasan

beberapa silsilah
melakukan perjalanan dengan wasiat
bermunajat di setiap petilasan
bersyukur sudah disambungkan
selamat, kita hanya butuh selamat
sisanya pengatur yang menentukan.

Terimakasih buat Yusuf Haryanto yang sudah memancing dialog tentang gerimis berwarna.






EJAAN MELATI

Karta Widjaja, 20 Juli 2017


melati mekar di lidah langit
senja berderit
beburung tak lagi bersenandung
hanya bersiul dengan dengung
hari-hari nanti
mungkin kita hanya menyortir mimpi
dari indung telur rintih

ada saja yang tidak mekar
didera sadapan embun berkarat
jatuh dari sukmaku
tak sanggup disuling api haru
hari-hari menunggu
ujung usia seperti kelopak
menghalus karena disamak

maka, melati itu kutaruh dalam gelas rindu
dihitung dari ruku
tanpa keluh


SKETSA SENJA

Karta Widjaja, 28 Juli 2017


aku diam dan diam-diam
tengadah
di langit diri
raga kian ringkih
sukma bersenandung dulu dan nanti
tak ada tepi
hanya teluk dikepung buih
tempat cakrawala membasuh kaki
sebelum malam menjala serpihan matahari


PERPINDAHAN MUSIM

Karta Widjaja, 30 Juli 2017


agni, api dari ribuan tahun kembali berkelip-kelip antara cerme, slamet, dan lawu. peperdu gentar, lalu memilih mengeringkan batang, tak sanggup bertumbuh dan bersaksi atas musim yang dilipat loka, kotak kehidupan dalam pewayangan

agni
hangus yang menggerus
menjadi arang yang menyerang
tinggal debu yang menyerbu

di bumi, semua berubah
tak kentara
agni,
jiwaku gemelutuk
terang redup
serasa begitu dekat
benda-benda langit
berkerjap-kerjap
menuju bercak dan titik
gemericit prenjak

agni,
musnah kehendak
lantak
dalam nyalamu
agni


RELIEF BUNGA CULAN

Karta Widjaja, 30 Juli 2017


aku akan menjumpaimu sebagai aroma bunga culan dan daun teh yang terseduh, syaraf akan melenturkan ketegangan hingga hidung mampu membedakan semua bauan. tak perlu bercakap, cukup berpandangan, mudah-mudahan udara menjaga kelembaban rinduku yang tak berpangkal dari kesembaban

daun coklat melayang
antara tanah dan awan ada yang tersambung
kita tak berhadapan-hadapan
tetapi dalam naungan garis lengkung
untukmu, hidupku
untukku, hidupmu
tak akan saling bertukar
hanya mendekat
terus melebur

atau
aku akan menemuimu sebagai senandung, nada diurutkan rasa sejak intro dibuka semayup kesegaran embun. bening penerimaanmu, disuling melalui pembakaran seribu peristiwa beracun. tak mengapa, sungai hidup kita memang melampaui tebing dan palung

kedasih menandai maghrib dan subuh
suara merambat hingga kampung bunian
kurang dan lebih kapal tetap berlabuh
hanya selamat mengarsir lembar penantian
BAGIKAN