Karta Widjaja: Sajak Juni 2017


Karta Widjaja
Terimakasih atas lukisannya ya Saci Gumina Puti


SEMACAM SAJAK CINTA BERIKUTNYA
Karta Widjaja, 9 Juni 2017

ingin aku memetik bunga dari tangan kalbuku yang gemetar
untukmu
hingga matahari dan bulan layu
menunggu
di pelepah waktu

hari begitu pahit di lidah
semua makhluk seperti berlari
berebut perih
dari pemilin sunyi

karena itu, aku merindukanmu
dalam sejuk udara setelah hujan
jernih langit menjelang malam
di matamu
juga di kebeningan penerimaanmu


TANGISMU *)
Karta Widjaja, 9 Juni 2017

aku tahu, dari gemintang yang meredup
engkau menangis
bukan karena kehilangan
akar rumput teki di sela kenangan
atau tunggul kenanga yang terbakar
engkau semakin lembut, pastinya
mudah tersenyum dalam tidak ada
percaya akan mendung dan terang
bergantian di cacah semesta

ah, tangismu
membuatku berberai bagai debu
diselinapkan gemuruh angin dari subuh
ke subuh
terserut embun berbingkai kelu

aku pasti kembali
setelah perahu dilayarkan
dari galangan mimpiku
juga pupil harapanku

*)BERIKUTNYA, MASIH SEMACAM SAJAK CINTA

Karta Widjaja
karena itu, aku merindukanmu
dalam sejuk udara setelah hujan

DI BAWAH DAUN MANGGA*)
Karta Widjaja, 12 Juni 2017

langit lembab di sini
dalam naungan daun mangga
dan segelas air kelapa
tak meredakan hausku
akan dongeng pertemuan
dengamu
segenap dan penuh

aku seperti runtuh
satu
satu
dalam kedip
matamu
kerling
kasihmu

tak semua yang kucecap gurih
setelah diri menghadap abadi
windu dan abad
hanya sekejap
bahkan tampak sebagai
kerlap

di bawah daun mangga ini
waktu memutih
memulas rambutmu
tanpa letih

*) Episode Nyanyian Nara Fauzi untuk Irfan Fauzi




SETELAH GEMPA
Karta Widjaja, 13 Juni 2017

dan angin istirah di pundak pagi
setelah gempa, yang tersisa hanya
gentar

adakah kita
telah cukup mengolah tanah titipan
apakah yang sudah kutanam adalah benih pohonan
bukan mahabenci dan keporakporandaan

aku tak berpaling
meniti nafas ini
setelah digeram di jalan air
dalam jurang yang diapit gunung
berlari atau diam
kalau saatnya, akan terterkam

kini
telapak sampai pada batas lelah dan terbata
hingga bersimpuh di mata air
dari hening ke bening

sejak itu aku belajar bersaksi
bahwa di telaga ini ada ular
di bukit itu ada harimau
dan di diriku
semua kebuasan mendekam
menunggu pemantik dari lidah kelam


PELUIT
Karta Widjaja, 16 Juni 2017

batas akhir serupa bunyi
ditiupkan dari gelisah pelubang langit
kini, tersedia menu seluruh kehendak
esok, semua yang ditelan menyedak
peta terbakar
menyamarkan jalan pulang
mendayung buih di angin ke delapan

tentu, seluruh kelenjar nafasku tersambung
dengan decit di bawah bumi
dan cicit di udara
semilir
layaknya desah
gemuruh
sebagai guruh

dalam pagi yang mengeras serupa besi
dengan sinar mengejar bayangan buta
doakan aku, isteriku, dengan seluruh heningmu.


NEMON*)
Karta Widjaja, 17 Juni 2017

aku memungut matahari dan bulan
dari telapak tanganmu yang kasar
penuh sekam setelah padi dikupas semalaman
untuk selamatan, bagi yang tumbuh di bumi
menjalar menjadi tegakan

belakangan aku tahu, ya Ibu
lembut senyummu terpatri di gemintang
terutama di malam rinai
dengan suhu tak mampu memuai
dan dedaun kaku
beburung gagu
semua nampak diam
gerak dan bunyi terperangkap
jerat khidmat

dalam panorama liris, aku akan berkeliaran
menyapa perdu di setiap tikungan
hingga keringatku menderas di bebatuan
atau berwujud derai
tak lerai
lerai

aku juga ingat, jutaan bunga mangga luruh
mewangikan pelataran
yang menjulur dari sujudmu di akhir malam

lihatlah, tak ada yang kami tidak tanam
setiap petak, setiap jengkal impian

*) Peringatan satu tahun dalam kematian




HADAP MENGHADAP
Karta Widjaja, 17 Juni 2017

jika tersedia halaman, akan kutanam melati paling putih
janji bersih hati
setelah menyebrangi ribuan semedi

mungkin semestinya sudah tumbuh dan rimbun
sejak restu untuk menenun
di diri yang basah oleh embun
dalam perjalanan yang dirahasiakan penenung

setiap batu yang kuinjak
membuat tubuhku retak
oleh perih
penerima mimpi

maafkan, jika mudah terpukau lanskap
bentang alam penuh warna
berbagai corak dengan gradasi sempurna
terenda cakrawala

ternyata
di dalam semua tersedia
degupnya membuncah
lautan tanda dan kalimah

ziarahku berhenti bersama rebah
rebahku digenapkan lelap
lelap dan nyalangku
mudah-mudahan bukan kehendakku
tanpa seteru
hu


JERUJI
Karta Widjaja, 19 Juni 2017

kita dipisahkan jejeran besi berkarat
mata bertemu mata
kalimat terputus di geraham udara

"sekali ini saja, jangan kau jerat aku di depan anakku", bisikmu pada lampu
juga timbunan batu
yang kemudian dieja menjadi bangku

banyak orang
dengan lautan alasan
yang lalai atau diperam rawan
masing-masing bersenandung jerih
hingga hangus kamus perih
rintih
mencakar-cakar terus denyut hidup
ingin bebas
memamah bianglala
renda langit dipulas gerimis
makin tipis
semayup hari
tertukar di ingatan
memburam

Tag Irfan Fauzi


KURSI
Karta Widjaja, 19 Juni 2017

kursi itu menggigil di udara pagi
setelah daun kering jatuh
satu
persatu
melengkapi siklus
tumbuh dan tergerus

"sudah seribu abad dia menunggu
pikirannya kelu
di tempat bersandarnya aku berbiak hingga berpilin dalam lorong buntu", ucap lumut
sambil menunduk

kursi itu, sudah tampak sebagai relief
di dasar candi
pahatan batu
ukiran keras
adegan tak ringkas
dunia sebrang ke lekang
lekang memburam tak tersambung
pada kini
semua menjadi gamang
nyaris tak pasti

kursi itu, tak membayangkan apapun
hanya sebuah meja
agar lengkap dalam ada, juga tiada
itu makanya ia membisu
seperti yang terdaftar
di ingatanmu
BAGIKAN