ANALOGI MELALUI BENDA-BENDA DALAM PANORAMA

Sampul Album Kepada Angin dan Burung-Burung

Ditulis oleh Karta Widjaja, 1 Maret 2017

Sewaktu kecil di desa kami, dari ratusan keluarga, hanya satu keluarga yang memiliki televisi hitam putih 12 inchi dan akan dirubung puluhan orang ketika ada pertandingan tinju Muhammad Ali juga pertandingan sepakbola Persib. Selain televisi, keluarga tersebut juga memiliki pengeras suara yang dipasang di atas tiang bambu setinggi 8 meter menghadap ke selatan dan utara. Karena posisi rumah kami di sebelah selatan, maka setiap hari kami bisa mendengarkan lagu yang didengungkan melalui pengeras suara tersebut. Entah kenapa, hanya lagu-lagu dari Rhoma Irama yang disetel ketika pagi hari dan hanya lagu-lagu dari Franky & Jane yang disetel sore hari. Itu makanya, beberapa lagu mereka begitu lekat tersimpan di cakram jiwa yang sering timbul ketika melihat pepohonan mengubah udara dengan bebungaan sebagai sumbernya. Seseorang yang mampu menjelaskan dengan dahsyat tentang bagaimana mekanisme rekaman itu berjalan dan berhenti adalah Carl Gustav Jung. Tetapi maafkan, saya tidak akan membahas soal itu, kembali ke lagu, sampai saat ini, ada lagu dari Franky & Jane yang terus menguntit melalui lompatan-lompatan diri ketika diperjalankan. Lagu itu kadang mengalun tiba-tiba ketika saya menjejaki bukit-bukit berkabut dengan pepohonan samar seperti bersemedi membaca gerak dari sunyat. Atau menyelinap lirih di antara pepadian kering ketika sawah-sawah retak dihembus kemarau maha kerontang dengan bercak-bercak bara api di setiap gerumbul awannya. Berikut lagu tersebut:

KEPADA ANGIN DAN BURUNG-BURUNG

Kepada angin dan burung-burung
Matahari bernyanyi
Tentang daun dan embun jatuh
Sebelum langit terbuka

Kepada angin dan burung-burung
Nyanyikan lagu ini
Tentang asmara yang biru
Yang mewarnai lukisan di dinding
Sebuah hati tanpa pigura
Tergantung sendiri dan berdebu

Kepada angin dan burung-burung
Mengerti irama ini
Seorang lelaki yang merindukan
Matahari terus bernyanyi

Apakah angin tetap bertiup
Bersama jatuhnya daun?
Apakah burung akan tetap terbang
Di langit yang terbuka?

Secara keseluruhan, pola pengucapan lirik lagu tersebut memiliki kecenderungan untuk mewakilkan segala kejadian, rasa, dan deliknya kepada benda-benda alam. sebuah teknik pengucapan yang membutuhkan keluasan dan keberterimaan jiwa untuk bisa secara teliti merangkai menjadi cerita yang sederhana, tetapi berwarna dan penuh daya kejut. Pemilihan kata dalam lagu tersebut, bisa jadi bukanlah menunjuk sebagai benda alam dengan siklusnya, tetapi sangat mungkin kata itu hanya sebagai penganalogian dari jejak yang membenam sepanjang jalan kehidupan tentang cinta kasih, kesetiaan, harapan, dan penantian.

Bagian awal lagu ini menjadi pembuka yang memikat dengan perumpamaan utuh mengenai “matahari” yang bernyanyi kepada “angin” dan “burung-burung”. Isi nyanyiannya sendiri berupa “daun” dan “embun jatuh” sebelum hari dimulai atau “sebelum langit terbuka”. Semua tampak begitu terang tergambar dengan urutan yang merasuk pelan dan membentuk pemahaman. Nyanyian tersebut bahkan seperti kita rasakan dentingnya dengan halus mengaliri udara di hari cerah. Cara pengucapan seperti ini juga pernah dilakukan Agnes Monica dengan nuansa yang lebih kelam, “tak ada lagi cahaya suci / semua nada beranjak, aku terdiam sepi .” (Matahariku).

Larik yang menurut saya sangat indah melukiskan tentang ketidaktergapaian adalah berikut ini: “tentang asmara yang biru/ yang mewarnai lukisan di dinding/ sebuah hati tanpa pigura/ tergantung sendiri dan berdebu”. Bukan main, mendengarkan lagu pada bagian ini, kadang saya merinding seperti sedang bersekutu dengan bayang-bayang penantian yang lapuk, tanpa harapan, dan kelihatannya begitulah sejatinya kesetiaan. Merentas ruang dan waktu, melampaui tumbuh dan gugur daun dengan tanpa jaminan akan tersambung. Sebuah sikap menggiriskan yang mencerminkan ketetapan hati tak bergeser semilisentipun dari sebermula ditetapkan. Pada saatnya nanti, hdup akan berganti dengan kepastian dan ketidakpastian yang lain. Keteguhan sikap akan lesap bersama ketiadaan yang menancapkannya hingga orang-orang akan melupakannya sebagai kisah seperti yang pernah diungkapkan JJ Slauerhoff, “Kapal layar kini bayang-bayang dari cerita lama/ yang sering berlaku, kini telah lenyap berlalu” (Madah Kapal Api).




Saya sendiri berkeyakinan bahwa lagu Franky & Jane ini pada dasarnya beraroma penantian. Suatu siklus yang mencerminkan tentang fragmen sebelum diberangkatkan menuju keabadian. Bagi kita, sebenarnya sudah dinugerahi begitu banyak tiang yang dapat kita buat menjadi berbagai bangunan. Bukan bentuk dan modelnya yang menjadi takaran, tetapi proses merangkai tiang-tiang itu kadang harus mengarungi jurang-jurang rahasia dengan binatang buas yang siap menerkam. Kalau beruntung, prosesnya seperti menikmati padang savana dengan senja yang terulur mendekap kedamaian. Perbuatan dan pengorbanan, begitu di dalam salah satu kitab suci pernah dijelaskan. Sungguh saya percaya, yang terjadi kini adalah apa yang sudah kita rangkai sebelum-sebelumnya. Sehingga, upaya yang dilakukan bukanlah menyalahkan orang lain atau lingkungan, diri yang membuat semuanya berwujud seperti saat ini dan juga nanti sebagaimana tersirat pada bagian penutup lagu itu, “Apakah angin tetap bertiup/ bersama jatuhnya daun?/ Apakah burung akan tetap terbang/ di langit terbuka?.” Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlihat tidak memerlukan jawaban verbal, waktu yang akan membuktikannya. Dan bila yang terjadi adalah pengejawantahan dari “tidak”, maka sangat layak kalau kita bersikap seperti almarhum Subagio Sastrowardoyo, “Di pinggir lembah/ aku akan diam terbaring” (Pasrah).

Terakhir, sebagaimana pernah diungkapkan almarhum ayah saya bahwa, “yang kita ingat dari hidup ini hanyalah siang dan malamnya, gelap dan terangnya.” Atau dalam versi lebih liris dinyatakan oleh Giorgos Seferis, “I don't know much about houses, / I remember their joy and their sorrow” (Thrush). Tabek.

salam takjim untuk Hikmat Gumelar dan Kang Kuswandie, juga teman-teman yang hidup di perantauan: Ramses Surobuldog, Imam D. Kamus, dan Moh. Syafari Firdaus. sesungguhnya, saya sedang terkenang Agus Syafa'at.
BAGIKAN