Karta Widjaja: Sajak April 2017


PARAFRASE LABA-LABA
PARAFRASE LABA-LABA

PERGUMULAN KEMUNING
Karta Widjaja, 1 April 2017

gerimis memainkan lampu di beranda dengan bercak rupa warna, sesekali memotret pot retak dengan kemuning kering menggelayut di pelupuk udara. ia sudah mati, tetapi tetap kukuh rantingnya menunjuk atap asbes yang menahan panas seperti jeruji meringkus penanam duri.

jeruk dan wijayakusumah berbisik,
"wahai kemuning, jangan mau jiwamu disisik"

selanjutnya badai melaju dengan menggempur, seluruh peratapan digulung menjadi bubuk semen dan kapur, menambal bukit-bukit yang digaruk ingin oleh muka besi dan otot jaringan penindih, "semua milikku, jangan menghalangi", ucapnya seperti fatwa pemburu sunyi.

awalnya butuh
selanjutnya hanya guruh

entah kenapa, kemuning yang mati berhasrat tumbuh kembali, kini telah menggeliat daun, hijau dan berimbun, di rantingnya yang coklat harapan ditenun.

jeruk dan wijayakusumah berpandangan
mohon ampun atas permintaan
"hiduplah atas hakmu kemuning,
bukan karena bisikan kami yang berdenging."


POTRET BUNGA SEPATU
Karta Widjaja, 5 April 2017

dari jendela mataku, bunga sepatu itu terlihat kuncup, menyebrangi siklus musim dan cuaca, berganti-ganti menggiring angin dan hujan yang menumbuhkan lumut di bebatuan. daun-daun peneduhnya mulai menguning, batang penahannya kian mengering, bunga sepatu itu kukuh, tak mau membuka kelopaknya meski detik berputar melebihi juta hingga berpeluh.

mata air di pipi air mata
tak kan cair yang membeku karena janjinya

berjenis burung hinggap dan menari di depan si bunga sepatu, bergantian, mengumandangkan maskumambang yang jernih hingga megatruh penuh liku, serangga yang berseliweran mendengarnya kontan bersenggukan teringat dalam rahim hingga berpisah dengan yang melahirkan. tetap tak bergeming, sekalipun awan menahan lengking.

mata air di pipi air mata
banyak yang tergelincir dengan alasan lupa

setelah pemakaman, bulu-bulu perdu berkisah bahwa bunga sepatu itu, terbawa rasa sayangnya pada seekor belalang yang patah kaki hingga ke hati, maka ia menyediakan putik untuk istirahat abadi, tak mau mekar hingga diboyong kelenjar mimpi.


DUPLIKASI MENYERUPAI PANTUN
Karta Widjaja, 6 April 2017

bunga matahari menadah hujan
langit tersenyum setelah reda
semakin bersemi setelah berkenan
digulung dan ditebang berbagai rasa

maka datanglah pahit menjalari
tak ada hitam juga putih
rayap menggerogoti kayu harapan
sebutir demi sebutir seperti ketan

maka datanglah manis mengguyur
cepat dan lambat tetap terukur
panas hawa nyenyak tidur
seperti dendang terus bersyukur

maka datanglah asam memamah
segala besi gagal terjamah
aus kenangan juga impian rumah
tersaruk-saruk selalu lelah

maka datanglah gurih dicecap
hanya di mulut kemudian lesap
ganti berganti tak pernah tetap
hitungan selalu gagal lengkap

maka datanglah getir menyayat
seperti diserbu ribuan kejat
cahaya silau rutin memahat
tak berguna sejuta perangkat

maka datanglah mual mengendap
terang benderang terasa gelap
kadang mengerang sambil tengkurap
selalu muntah setiap disuap

maka datanglah lirih terseduh
sebuah cangkir di langit teduh
riak dan tenang dalam pembuluh
mengerang bersama sinar suluh

maka datanglah diri
juga jalur ke cakrawala
maka merenangi sunyi
tak ada apa-apa, sama saja.




KEPAKAN CAPUNG
Karta Widjaja, 9 April 2017

"aku akan menuliskanmu, air, aku akan mengabarkanmu", ucap capung sambil berkepak di sekitar dadap yang menghumuskan lembah menjadi dataran subur penuh kuntum dan buah. capung itu didera bahagia dengan kesegaran yang dicecapnya berulang-ulang. setiap pohon yang dilewati, selalu ia bisikan rahasia menahan air di akar dan umbian.

lalu langit datar
tak ada lagi hujan dan guntur berkelakar

capung itu, terus berkepak, menyambangi rumputan gosong di padang pengembalaan dan perburuan bukit-bukit kapur ujung penantian, tak lelah ia berbisik, hingga sayapnya makin berderik, dikejar haus yang mencekik.

tentu saja, capung itu jatuh
tubuhnya kisut tanpa peluh
seribu hari kemudian
di tempat capung dikuburkan
air memancar tak berkesudahan


ANATOMI JUMAT AGUNG
Karta Widjaja, 14 April 2017

hanya dari semilir angin yang mengusap pelupuk daun, bisikan itu datang, "pada hari ini pernah gelap di siang hari, padahal tak ada gerhana, juga yang terluka." bisa jadi, sebagian kesucian telah bermigrasi ke tempat-tempat dengan ketakwaan menjadi tirai-tirai yang melembutkan badai hingga membentang permadani rumput penuh kedamaian.

yang putih kemilau di batang talas
engkau penuh kasih tak berbatas

sejak itu, kupu-kupu selalu berdoa berulang-ulang melampaui jenuh dan lusuh, "kami yang dalam nafsu, izinkan kami bershalawat padamu, menyambungkan penebusan atas khilaf dan kemelaratan kalbu, ampunkan kami yang mudah berseteru." berkali-kali air matanya menjadi rembesan yang mendanaukan padang gersang, hingga menjalar kehijauan.

engkau penuh kasih tak berbatas
kami hanya pendoa yang mudah terkipas
seperti perbuatan tak tercatat di berkas
limpas

Selamat Jumat Agung bagi para sahabat yang merayakan. Tabek.


PENANTIAN ANI-ANI
Karta Widjaja, 19 April 2017

ani-ani itu bermimpi mengetam padi dengan menggugurkan tetangkai satu persatu, bulir berayun gemulai menerjemahkan mendung menjadi rinai yang sejuk. ia dicekam haru paling linu dan berharap dengan permohonan sangat sendu, "satu kali saja, aku ingin membaui jerami di hamparan lelangit biru, setelah itu biarlah diperam waktu."

ani-ani itu pisaunya mulai melepuh
sawah menguning begitu dirindu
bayangan rayap membuatnya luruh

beberapa serangga malam membujuk bersama desau pembuluh, "ayo ani-ani, kami gendong dengan jaring laba-laba, ke tepi samudra menghanyutkan silsilah." ani-ani mematung, pelupuk kesabararannya terbuka, tak mengatup meski angin beraroma nanah. ia tetap di sela bilah bambu hingga tetulangnya gugur merapuh.

oh ani-ani
tak ada yang tahu bentukmu kini
entah runcing atau bergerigi
setiap malam digerogoti sunyi
hingga pupus sawah berganti beton berjeruji


ENAM TALIBUN DIJERAT HAIKU
Karta Widjaja, 20 April 2017

maka kutuang
sunyi lewat selokan
ke laut kelam

jadi datanglah
wahai sejuk kasihmu
melelapkanku

aku melesap
dijarah mimpi kasap
tertombak kerjap

tatapmu penuh
mengintai dengan dadu
berujung semu

aku bersimpuh
sungguh hendak meluruh
lewat pembuluh

bibit menyemai
pertengkaran tlah lerai
bersiul murai


DRAFT SKETSA SESAK
Karta Widjaja, 22 April 2017

sore begitu lembab setelah panas menggiring mendung hitam tanpa gradasi, angin tertunda di sarang semut hingga pelepah kantuk senyap melayu di kursi tanpa sandaran. beberapa pemecah batu melepaskan palu dari ujung lengan yang kaku, mereka tak sanggup memanen bulir keringat yang berlarian menerjang sungai, ada yang bertanya tapi gagal terucap karena kalimat halus meluncur dari rembesan perdu, "dulu pernah riwayat ini terekam panorama, sebelum cabang beranting, sebelum suara dan gema beriring", bisik serat pelepah pisang yang mengikat daun kemangi di emperan pasar. kini, denyutnya samar, kadang tidak tercetak dalam ingatan.

hujan merentas gunung dan daratan
air menetes dari mata yang rawan

kadang
menggali jalan melalui dasar sungai
penyangga ambruk
beberapa terkubur
sekaligus dikuburkan

tak
ada
lagi
cara
menerjemahkan
arti
kesedihan
nafas lintang-pukang


PARAFRASE LABA-LABA
Karta Widjaja, 24 April 2017

mungkin saja aku menyerupai laba-laba yang sedang menenun sarang untuk menjebak mangsa di varian kerlip cahaya. aku hanya bisa menunggu, tak mungkin beburu. karena itu, aku harus lebih sabar bahkan ketika bunyi hilang gemuruh. sering terjadi, aku berpantang melampaui durasi dendang di perutku hingga tarian kunang-kunang menghiburku dalam janji batu kelu.

jam dinding bukan penanda waktu
ia hanya rutin mengintai nafasmu

mungkin saja, aku tidak menyerupai laba-laba yang tertidur ketika serangga terperangkap dan mengejat sampai beku. yang datang padaku, belum tentu utusan untuk membatalkan puasaku karena ada dan tiada bukan milikku.
BAGIKAN