Karta Widjaja: Sajak Februari 2017

FRAGMEN BERITA
Karta Widjaja, 6 Februari 2017

1

pagi dierek dengan kalimat yang gemetar sepanjang kolom tanpa halaman, "tak ada kebenaran, hanya dusta dari penista", ucap Marmiun dengan muka meradang (Tempo, 2/12/2016). matahari menyuram dan awan meruncing seperti tombak-tombak panjang para hulubalang. peperangan itu, hanya adegan dalam sel sarafnya setelah rumah mengelupaskan diri menjadi gambar reot di lembah yang beku.

langkah berpilin dengan usus
entah topan entah lesus

masing-masing, mungkin saja sedang berlatih menyesuaikan diri antara komposisi dengan pelebar suara. ada distorsi, sesuatu yang kita rindukan ketika kanak-kanak di panggung tujuhbelasan. "kamu, tentu saja harus kamu yang lalai, karena kami dalam kebenaran," lanjut Marmiun sambil berdendang sawah, juga ladang. begitu pula sebaliknya, "kamu yang kurang ajar, sebab kami dicintai impian aneka rupa harapan", lugas kalimat dari mulut kelembaman. ah, asal jangan kami yang dicincang, sesudah atau sebelum senja melayang.

di sini, Misnun belajar berdoa dan berdosa

FRAGMEN BERITA
Karta Widjaja, 8 Februari 2017

2

"tanah kami diserobot kemudian kami di penjara", ucap Misnun dengan ekspresi beku seperti melampaui jurang maut (kompas, 13/12/2016). di tanah itu, sesungguhnya berjejer makam keringat nenek moyang Misnun yang bermetamorfosa menjadi buah kopi, tangkai duren, juga sepercik darah yang berakhir di penjara.

perladangan menumbuhkan rumput
nafas kami ternyata hanya sejumput

di sini, Misnun belajar berdoa dan berdosa. kadang bermimpi mengasah gergaji sepanjang abad, tapi linglung setelah terbangun dibekap rangkaian besi yang dianyam dengan keinginan memerangkap ular dan macan, meskipun lebih banyak kambing dan sapi yang dikandangkan.

di tengah sawah tumbuh rawa
Misnun kini kasat mata

ia meniup-niup telinga kerbau liar, beringin air, dan pandan duri di geligir pantai. sesekali ombak terpanggil merangkai karang menjadi aroma gosong yang melenyapkan pendaratan perahu dari pelayaran di pelupuk lengang. sisanya tentu saja kita, tinggal memilih berpihak ke siapa.


FRAGMEN BERITA
Karta Widjaja, 9 Februari 2017

3

hujan disayat desis dari sel tanpa nama, "bersuaralah agak keras Nak, telinga kiriku beku sejak dijejak popor berpeluru", ujar Suhdin di seperempat malam (pikiran rakyat, 15/03/1995). di halamanmu tampak teh berbunga putih beberapa waktu kemudian membakar diri, seperti upacara atas dugaan khianat dalam dongeng perentas sunyi.

air gemericik tanda tak dalam
tak setitikpun mundur di pergumulan

di bayang mata Suhdin tak ada apa-apa, tetes suara ataupun warna, datar serupa laut yang bertapa ketika kabut berhenti di mata air yang berupaya menanam sulur keyakinan bersama semilir. tahun demi tahun merambati sketsa bangunan di perkebunan tak berpelipir, hingga mimpimu sedak membendung arus getir.

air gemericik di pegunungan hitam
Suhdin berjejak melampaui temaram




BIOGRAFI KOPI DI PERPINDAHAN MUSIM
Karta Widjaja, 10 Februari 2017

kopi itu datang ketika rinai kabut menyempurnakan gelap yang meniti tangga langit dengan dingin serupa danau di kawah gunung. darimu sahabat, dengan kebeningan hati dan aroma wangi yang terpendam berabad-abad. mungkin kamu menanamnya dengan kasih yang lengkap di jejaring tanaman tepi hutan Manglayang bersama keringat dan harapan. mungkin juga menjemurnya sambil merayu matahari agar menyadap airnya hingga di kematangan yang cukup.

anakku menggiling
aku menyeduh
wijayakusumah dan tarling
jiwa meneduh

kopi itu, akan selalu melekat di setiap kalender yang memahat dinding, dari jauh nada-nada ikut berdenting, "terimakasih sahabat, terimakasih."

untuk Irwan Nirwana dan Aulia Asmarani


FRAGMEN BERITA
Karta Widjaja, 12 Februari 2017

4

"tenun kebangsaan itu dibeset", ucap Kamis dengan mimik hendak menangis (merdeka, 1/01/16). kini kalimat itu berserpih menjadi sungai ludah yang menenggelamkan kisah-kisah menerima, memahami, dan menguatkan. karena itu, arus sungai berbalik tak lagi ke muara, tetapi menanjaki terjal jeram ke hulu dan berumah di palung kepentingan.

pecah buih retak sunyi
ya sudahlah terlanjur begini

kini, Kamis tergiur menyebrang ke Jumat, seluruh huruf yang pernah mengalir dari jiwanya dipungut kembali untuk kemudian dibakar di lubang sampah halaman belakang. Ia tidak hanya membeset, tapi menggiling kebangsaan hingga menjadi tepung dan menaburkannya di tangga menuju semu, sudut selalu tak bertemu.
BAGIKAN