Karta Widjaja dari Balik Kaca Mata Saya




Karta Widjaja adalah teman, sahabat, saudara, sekaligus juga 'musuh' yang saya kenal sejak sekolah di Unpad. Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Beliau. Saya mohon izin untuk memuat sajak-sajaknya yang berderet di halaman Facebook Beliau tanpa harus membeli hak patent atau memberi honor. Alhamdhulillah, Beliau setuju. Karena itulah, saya harus menulis tentang Beliau agar pembaca mengenal sosok ini dari balik kaca mata saya.

Perkara Nama dan Asal Usul

Saya kenal Karta Widjaja sejak masuk Unpad tahun 1988. Kami mengambil bidang studi yang sama, Sastra Indonesia, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya). Pada saat itu, saya kenal Beliau bernama Kartawi bukan Karta Widjaja. Saya mengetahui kalau Beliau itu bernama Karta Widjaja setelah belajar berselancar di 'mainan' Mark Zuckerberg jauh dikemudian hari.

Alasan perkara perubahan nama itu, saya ketahui setelah Beliau bercerita pada pertemuan akhir-akhir ini. Di daerah Beliau tinggal sewaktu kecil (Cirebon?), secara kultural, seorang anak 'belum boleh' menggunakan nama panjang. Nama lengkap atau nama panjang itu baru boleh disandang setelah dewasa. Hal ini juga sempat merepotkan Beliau saat mengurus Akta Kelahiran dan administrasi kependudukan lainnya. Sebetulnya bagi saya, biarlah suka-suka Beliau menggunakan nama apa saja. Saya yakin perubahan nama itu bukan karena 'latah' seperti seorang artis, misalnya, Siti Khodijah menjaadi Ayu Azhari atau Raden Rizki Mulyawan menjadi Dik Doang.

Saya juga tidak 'ngeh' kapan beliau dilahirkan. Berani sumpah, saya tidak pernah merayakan ulang tahun Beliau. Saya juga tidak tertarik untuk mengetahui horoscope beliau gemini atau virgo, karena itulah, saya tidak tahu tanggal lahir yang tepat. Kalau tahun kelahiran kemungkinan antara 1968, 1969, atau 1970. Pasti tidak akan terlalu jauh dengan tahun kelahiran saya.

Karta Widjaja atau Kartawi, menurut yang saya tahu dari hasil pergaulan dengan Beliau, berasal dari Kota Cirebon. Sejak kecil hingga SMA, Beliau lebih banyak tinggal di Cirebon walaupun sempat beberapa tahun, sewaktu SD, tinggal di Bandung. Cirebon daerah mana? Tepatnya saya tidak tahu sebab saya juga tidak pernah menanyakan alamat lengkapnya. Saya juga tidak tahu apakah Beliau keturunan Ningrat Cirebon atau Rakyat Jelata, apakah anak orang kaya, menengah, atau miskin? Saya juga tidak tahu. Saya bukan tipe orang yang harus melakukan 'interview' detail sebelum berkenalan dengan orang lain untuk berteman.

Jadi, perkara nama dan asal-usul ini, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa Beliau bernama asli Karta Widjaja, berasal dari Cirebon, lahir anatara tahun 1968-1970, saya kenal Beliau saat berada di Bandung karena melanjutkan sekolah setelah lulus SMA.

Pendidikan Formal

Yang pasti, Kartawi lulus SD, SMP, dan SMA. Kalo salah satu dari jenjang pendidikan itu ada yang tidak lulus, saya mungkin belum kenal Beliau sampai saat ini. Saya kenal Beliau saat diterima menjadi mahasiswa UNPAD pada tahun 1988.

Saya mengetahui masa-masa SMP dan SMA Karta Widjaja saat kami 'nongkrong' bareng berjam-jam lamanya. Intinya, pada saat menempuh pendidikan SMP dan SMA, Karta Widjaja tidak bisa dibilang sebagai 'anak baik'. Dia bukan tipe 'anak sekolahan' pada umumnya. Cerita tentang perkelahian, minuman keras, dan bolos sekolah sering meluncur lancar sambil menikmati kopi saat kami 'nongkrong'. Entahlah, mungkin referensi Beliau saat itu tentang 'anak sekolahan' berbeda dengan pendapat orang pada umumnya.

Kehidupan yang begitu 'keras' di masa SMP dan SMA itu ternyata tidak menjadikan Karta Widjaja sebagai preman jalanan yang tidak tentu arah dan tujuan hidup. Beliau justru diterima sebagai mahasiswa UNPAD melalui jalur PMDK!. Jalur masuk jenjang Perguruan Tinggi yang banyak didambakan 'anak sekolahan' pada saat itu. Jalur ini tidak perlu bersusah-payah ikut ujian masuk Perguruan Tinggi tetapi, langsung diterima setelah lulus SMA. Sungguh, secara logika sulit untuk bisa diterima akal, anak nakal yang suka berkelahi, mabuk-mabukan, jarang masuk sekolah tetapi lolos PMDK!!! Apakah Beliau memang berbakat pintar atau mesin pengolah data di Depdikbud kebetulan sedang rusak?, saya tidak tahu. Apa pun itu, yang pasti takdir Tuhan mempertemukan saya dengan Beliau saat sama-sama menjadi mahasiswa baru di UNPAD.

Saya tidak meragukan apa yang Beliau ceritakan tentang masa-masa sekolah SMP dan SMA di Cirebon. Karakter itu 'sedikit-banyak' juga muncul saat sekolah di UNPAD. Kami berteman selama menjadi mahasiswa UNPAD cukup lama, 7 tahun! Saya dan Kartawi mengikuti Sidang Skripsi bersamaan pada tahun 1995. Saat itu, banyak temen-temen satu angkatan yang sudah lulus menjadi Sarjana. Artinya, kami menghabiskan seluruh jatah semester yang diperbolehkan sebelum di DO yaitu, 14 semester! Mungkin bahasa anak sekarang, "kemane aje lo???" Tapi saya tidak mau kalo disebut sebagai sarjana 'cuci gudang', kualitas kami sebagai sarjana bukan kualitas diskon!

Begitulah, perjalanan pendidikan formal terakhir Karta Widjaja adalah resmi menadi Sarjana Sastra pada tahun 1995. Kami diwisuda bersamaan. Tidak lama setelah itu, saya dan kartawi terpisah untuk menempuh jalan kehidupan masing-masing. Berpisahnya kami ini rupanya memaksa Mark Zuckerberg untuk membuat Facebook agar menjadi 'triggers' perjumpaan kami kembali setelah 15 tahun berpisah melalui Fajar Adjie, seorang temen, sahabat, saudara, sekaligus juga 'musuh' saya yang lain.

Kegiatan dan Pergaulan semasa Kuliah

Kalo pembaca adalah generasi seangkatan dengan saya (lahir antara 1968-1970), pernah tinggal di Bandung pada tahun-tahun 1990 - 1997, dan pernah bermain-main ke Kampus UNPAD di Jl. Dipati Ukur, saya pastikan anda akan kenal dengan Kartawi. Mengapa? Beliau mengenali lingkungan kampus dipatikur seperti kamar tidurnya sendiri. Jika pembaca masuk ke kampus Unpad Dipati Ukur dari gerbang manapun, kemudian bertanya, "Kenal Kartawi nggak?," pada seseorang yang pertama kali anda temui, saya yakin 80% pasti menjawab kenal! Jangankan orang, mungkin segala jenis mahluk halus penunggu kampus pun akrab dengan Beliau.

Sebetulnya, komunitas (genk,grup) tempat pergaulan saya dengan Kartawi cukup berbeda. Kartawi memang lebih dekat pada pergaulan di komunitas kreatif yang terlihat 'nyeniman'. Karena itu, style dalam mengekspresikan diri pun sangat berbeda dengan saya. Kesan kucel, jarang mandi, seminggu sepertinya tidak pernah ganti baju, sarta bersikap sak karep-karepe dewe, terlihat dalam penampilan sehari-hari Beliau waktu itu. Namun ternyata, kesan itu tidak menunjukkan kualitas pemikiran yang kucel juga. Jika berdiskusi dengan Beliau, saya lebih melihat seorang profesor daripada mahasiswa. Entahlah, kesurupan atau memang kualitas daya nalarnya yang luar biasa.

Pergaulan dengan seni dan budaya sepertinya adalah 'fakultas' lain yang ditempuhnya di luar pendidikan formal. Beliau menulis puisi sudah sejak lama. Karya-karya Beliau juga cukup banyak yang dimuat di harian-harian lokal dan nasional. Beliau juga beberapa kali tampil dalam pementasan teater dan bermain musik.

Sepak terjang beliau di dunia seni dan budaya, yang saya tahu, tidak pada karya-karya yang populer. Jadi, sepertinya mustahil akan ditanggapi jika saat itu Beliau saya ajak diskusi membahas cerpen atau filem "Lupus". Diskusi dengan beliau akan hangat dan menyenangkan ketika kita membahas "Macbeth", drama tragedi karya Shakespeare atau bicara soal "Oedipus the King" karya Sophocles. Tentu tidak hanya karya-karya manca negara, Skripsi saya yang membahas novel "Para Priyayi" yang ditulis Umar Kayam juga bisa memicu 'permusuhan' pendapat dengan Beliau.

Kejutan Pertemuan Kembali

(dalam proses penulisan)

Mungkin cukup sekian dulu, sosok Karta Widjaja dari balik kaca mata saya yang perlu saya sampaikan kepada pembaca. Saya sudah mencoba mencari buku otobiografi beliau di seluruh rak toko buku tetapi saya belum bernasib baik untuk menemukan. Dari balik kaca mata saya, tentu masih banyak cerita-cerita lain tentang Beliau yang tidak harus saya sampaikan. Semoga pada kesempat lain.

Selamat menikmati karya-karya Karta Widjaja.

Terimakasih,
Jakarta,, 31 Juli 2017

Wong Urip